Anggota MPR RI Drs Fadholi M.I.Kom., Sosialisasi Nilai Kebangsaan Tentang Tenggang Rasa dan Saling Menolong di Masa Sulit

0
1 views
Anggota MPR RI Drs Fadholi M.I.Kom., saat Sosialisasi.(FOTO:Invest/Likwi)

Kendal, Investigasinews.net-Tenggang rasa atau tepo seliro akrab dalam budaya masyarakat Jawa, yang saling menghormati antar sesama.

Dalam tenggang rasa atau tepo seliro ini, ada unsur empati atau saling peduli. Tak heran jika gotong royong begitu kental pada masyarakat kita dulu.

Lalu, apakah sekarang sudah hilng? Saat ini masih ada, tapi cenderung mengalami pengurangan.

“Banyak diantara generasi muda kita tumbuh menjadi generasi radikal dan intoleran. Seiring perkembangan jaman, kepedulian antar sesama itu pelan-pelan mulai berkurang,” kata anggota MPR RI Drs Fadholi, M.I.Kom., pada acara Sosialisasi Nilai Kebangsaan dengan tema ” Tenggang Rasa dan Saling Menolong Sebagai Wujud Pengamalan Pancasila” di kantor DPD Nasdem jalan Stadion Utama Kebondalem Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (26/12/2020).

Tenggang rasa ini, seringkali dimunculkan karena persamaan. Misalnya, sesama orang Jawa harus saling menghargai. Sesama orang muslim, harus saling tolong menolong.

Tenggang rasa atau tepo seliro harusnya berlaku secara universal.

Tenggang rasa harus diaplikasikan kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

“Nilai-nilai luhur ini, memang mulai menipis. Banyak diantara kita yang kurang peduli. Kita semakin tidak peduli kepada sekitar kita. Antar tetangga saja, terkadang banyak diantara kita tidak saling mengenal. Padahal, Tuhan menganjurkan kepada setiap manusia, untuk saling mengenal. Hal ini penting, karena pada dasarnya tiap manusia berbeda-beda,”ujar Fadholi.

Dalam konteks saat ini, tenggang rasa menjadi hal yang wajib dimunculkan lagi. Karena ancaman radikalisme terus menguat.

Menurut Fadholi, propaganda dari kelompok radikal terus berkembang.

Mereka seringkali memanfaatkan sosial media dan teknologi, untuk mempengaruhi publik.

Tak sedikit diantara masyarakat yang menjadi korban, khususnya para generasi muda.

“Akibatnya, tidak sedikit dari generasi muda kita yang semakin tidak toleran. Banyak diantara generasi muda kita, tumbuh menjadi generasi yang gemar menebar kebencian dan kekerasan,” terang Fadholi.

Di dunia maya juga semakin banyak ditemukan ujaran kebencian, yang dilakukan oleh para generasi muda, karena mendapatkan pemahaman agama yang salah, mereka berubah menjadi generasi radikal.

Banyak pelaku radikalisme dan terorisme, masih didominasi para remaja usia 17-35 tahun.

Tenggang rasa ini, sebenarnya mudah, tapi terkadang sering dilupakan. Tenggang rasa atau tepo seliro mempunyai dampak yang luar biasa, tapi sering disepelekan.

Dadholi mengaku, dengan saling menyapa ketika bertemu di jalan, itu saja sudah membuat masyarakat saling mengenal. Melalui kebiasaan saling sapa dan tersenyum, bisa menggagalkan tindakan negatif.

“Kebencian yang disebarluaskan kelompok radikal, harus dilawan dengan tenggang rasa atau tepo seliro agar kedamaian ini kembali menghiasi keseharian kita,” papar Fadholi.

Fadholi meminta, masyarakat Indonesia harus terus menyebarkan pesan damai ke seluruh penjuru negeri, agar kedamaian juga menyebar ke semua orang.

Sehingga tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi saling menghakimi, dan tidak ada lagi saling membunuh antar sesama.

” Semoga ini bisa jadi renungan kita bersama,” pungkas Fadholi.(Likwi)

Tinggalkan Balasan