Belum Lama dibangun, Talud Sungai Bodri Sepanjang 80 meter Longsor

0
970 views

Kendal, Investigasinews.net– Talud Sungai Bodri di Desa Lanji, Kecamatan Patebon, Kendal, Jumat (19/1) longsor akibat terdorong tanah tanggul yang berada di sebelahnya. Padahal talut sepanjang 80 meter tersebut baru dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jateng pada pertengahan tahun 2018 silam.

Kades Lanji, Siti Nur Faizun, mengatakan, pada Jumat malam sekitar pukul 22.00 air datang dari hulu dengan begitu derasnya, menyebabkan ketinggian air di Kali Bodri mencapai 290 sentimeter. Kondisi air yang deras itu, mengakibatkan talud yang terbuat dari beton longsor.

‘’Talud beton longsor dan masuk ke Sungai Bodri. Sekarang tanggul tersisa sekitar satu meter dari permukiman warga, sehingga mengancam puluhan rumah warga dari dua dusun yang ada di Desa Lanji,’’ kata Siti Nur Faizun, Rabu (23/1).

Menurut Siti Nur Faizun, dirinya sudah melaporkan kondisi tersebut ke kecamatan dan diteruskan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kendal dengan harapan untuk segera diperbaiki.

Sementara, Kepala DPUPR Kendal, Sugiyono, mengatakan bahwa, talud yang dibangun Pusdataru Jateng memiliki panjang 240 meter dan sudah selesai pada 2018.

Talud beton yang longsor panjangnya 80 meter dengan ketinggian sekitar tujuh meter. Akibatnya tanggul tanah Kali Bodri yang memisahkan dengan pemukiman warga hanya tersisa dengan ketebalan satu meter dan panjang 20 meter.
‘’Kami sudah menetapkan tanggap darurat terkait kejadian longsor tersebut,’’ kata Sugiono.

Menurut Sugiono, untuk mengantisipasi terjadinya tanggul jebol, Pusdataru Jateng telah memperbaiknya dengan memasang trucuk bambu. Pihaknya bersama BPBD Kendal juga akan menangangi di sebelah luar talud yang longsor.

‘’Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa lebih parah. Bila tanggul jebol menyebabkan sejumlah wilayah di Kecamatan Kendal kebanjiran. Sebab, kondisi Kecamatan Kendal lebih rendah dari Kecamatan Patebon,’’ ujar Sugiono.

Salah satu warga bernama, Asrori, mengaku, sejak terjadinya talud longsor, warga selalu was-was jika turun hujan. Karena dikhawatirkan, tanggul jebol dan terjadi banjir bandang.
‘’Setiap hujan deras datang, warga selalu memantau kondisi ketinggian air di Sungai Bodri. Bahkan, tak sedikit warga yang tidak berani untuk tidur,’’ kata Asrori.(Andrew. S)

Tinggalkan Balasan