Kendal, Investigasinews.net – Ratusan warga Desa Boja, Kecamatan Boja, Selasa (11/06) saling dorong dan berebut gunungan hasil bumi dalam kirab budaya merti desa dan tradisi syawalan.

Warga rela saling dorong dan berebutan untuk mendapatkan sayuran dari gunungan hasil bumi.

Sebelumnya, dua gunungan diarak keliling desa sejauh lima kilometer dengan iring-iringan pasukan pengawal Nyi Pandansari atau Nyai Dapu.

Ratusan warga menunggu kedatangan gunungan hasil bumi di depan komplek makam Sedapu di Kecamatan Boja.

Namun belum sampai di depan komplek makam, warga sudah mulai mendekat dan merebut gunungan hasil bumi meski sudah dihalau sejumlah anggota panitia.

Warga baik muda maupun tua saling dorong dan rela berdesakan untuk bisa mendapatkan hasil bumi yang diarak dalam tradisi syawalan dan Merti Desa Boja tersebut.

“Saya hanya ingin mendapatkan berkah dari gunungan hasil bumi yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan,”kata Salmiah, warga sekitar.

Menurut Salmiah, meski dirinya harus berdesakan dan saling berebut gunungan hasil bumi tersebut, namun ia senang jika bisa mendapatkan sayuran atau buah-buahan walau sedikit.

“Saya dapat macam- macam ada ketela, jipang, kupat, sayuran dan buah- buahan. Sayuran ini nanti akan saya masak bersama keluarga. Ini berkah dan barokah kalau kita memakannya,”ujar Salmiah.

Slamet Riyadi, Kepala Desa Boja, mengatakan, kirab terdiri dari iring-iringan Nyai Pandansari yang menaiki kuda dan diikuti barisan pengawal berpakaian hitam- putih dan prajurit perempuan.

Sementara makna dari kirab gunungan hasil bumi ini sendiri, sebagai bentuk semangat warga untuk saling bergotong royong dan sebagai bentuk ucapan syukur warga Desa Boja kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Gunungan hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan ini merupakan bentuk syukur warga atas limpahan berkah dari sang pencipta. Sedangkan kirab budaya Nyi Pandansari atau Nyai Dapu sebagai bentuk penghormatan kepada Nyi Pandansari yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Boja.

“Nyai Pandasari itu juga adik kandung Ki Ageng Pandanaran dan masih melekat di relung hati masyarakat Boja. Beliau ini penyebar agama Islam di wilayah Boja,” kata Kepala Desa Boja, Slamet Riyadi.

Menurut Slamet Riyadi, kirab ini sebagai bentuk tradisi tahunan masyarakat Boja untuk menghormati, leluhur penyebar agama Islam di wilayah Boja.
“Ini sudah menjadi tradisi tahunan desa kami saat syawalan. Kami berharap dengan tradisi merti desa ini, hasil sawah dan kebun kami menjadi melimpah,” harap Slamet Riyadi.

Sedangkan Camat Boja, Ripurwanto, mengatakan gunungan hasil bumi ini sebagai bentuk rasa syukur warga atas limpahan berkah yang selama ini diberikan dari sang pencipta.

“Ini sebagai bentuk syukur warga atas limpahan rejeki dan sekaligus memperingati acara syawalan,” kata Ripurwanto. (Tim)

Related Post

Tinggalkan Balasan

investigasinews logo
Jam Layanan & Info
Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabung dengan 8 pelanggan lain