Ujian sebagai Pendidikan Jiwa: Langkah Sunyi Moh Fikri Alamin di Arena PSHT

Gresik – investigasinews.net
Pagi itu, Minggu (11/1/2026), Padepokan Asem Pandan, Cerme, tak hanya dipenuhi derap langkah para peserta ujian kenaikan tingkat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Di antara mereka, ada satu langkah yang tak paling cepat, tak pula paling kuat, namun menyimpan makna yang paling dalam.
Langkah itu milik Moh Fikri Alamin.
Fikri datang ke arena ujian bukan untuk membuktikan bahwa ia sama dengan yang lain, melainkan untuk membuktikan bahwa ia setia pada proses. Dengan keterbatasan fisik yang ia miliki, ia berdiri sejajar dengan peserta lain, mengenakan sabuk hijau, siap menjalani ujian kenaikan tingkat ke putih—tingkat yang dalam ajaran PSHT bukan sekadar simbol, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Di PSHT, ujian bukan panggung pamer kekuatan. Ia adalah cermin batin. Setiap gerak, setiap napas, dan setiap sikap adalah cara untuk menilai sejauh mana seorang warga mampu menyatukan pikiran, perasaan, dan perbuatan dalam satu niat: Setia Hati.
Fikri menjalani setiap tahapan ujian dengan kesungguhan yang tenang. Gerakannya mungkin tak selalu sempurna, namun sikapnya utuh. Tak ada keluh, tak ada ragu. Yang terlihat hanyalah ketekunan seseorang yang telah lama berdamai dengan keterbatasannya dan memilih untuk terus melangkah.
Dalam ajaran Setia Hati, kemenangan sejati bukanlah menundukkan lawan, melainkan menaklukkan diri sendiri. Dan di arena itu, Fikri sedang berhadapan dengan ujian paling berat: rasa takut, rasa minder, dan godaan untuk menyerah. Satu demi satu, ia hadapi dengan keteguhan.
“PSHT mengajarkan saya untuk berdamai dengan diri sendiri,” ucap Fikri lirih usai ujian.
Kalimat sederhana itu menyimpan perjalanan panjang tentang penerimaan, keikhlasan, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Sejak didirikan pada 1922 oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, PSHT menanamkan nilai bahwa pencak silat hanyalah sarana. Jurus bisa diajarkan, teknik bisa dilatih, tetapi watak harus dibentuk melalui proses panjang—melalui ujian, kesabaran, dan kejujuran hati.
Sabuk putih yang diperjuangkan Fikri bukanlah tanda kehebatan. Ia adalah pengingat bahwa semakin tinggi tingkat seseorang, semakin besar tuntutan untuk rendah hati, jujur, dan menjaga persaudaraan. Dan pada pagi itu, di padepokan yang sunyi, nilai-nilai itu menjelma nyata dalam diri seorang peserta yang datang dengan keterbatasan, namun pulang dengan kemenangan batin.
Langkah Fikri mungkin tak menggema keras di arena, tetapi maknanya jauh melampaui ujian. Ia menjadi pesan diam bahwa dalam PSHT, dan dalam hidup, keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan—selama niat tetap lurus dan hati tetap setia.



